Timothy Ravis

Saya adalah seorang perencana kota dan geografer yang penelitiannya berfokus pada transisi energi di Indonesia, serta bagaimana ruang, fakta, dan otoritas saling terkait dan diperdebatkan dalam pelaksanaannya.

Ini adalah paragraf dalamnya saya menjelaskan latar belakang akademik saya untuk mengesankan pembaca. (Maaf!) Untuk S1 saya belajar bidang politik internasional di Tufts, dan menjadi orang pertama dalam keluarga saya yang lulus dari perguruan tinggi. Saya juga menjadi yang pertama melanjutkan studi pascasarjana, tapi sebelumnya saya mengajar di Korea Selatan selama 2 tahun. Untuk S2 saya menempuh studi geografi dan ilmu informasi geografis di UConn. Saya didukung oleh beasiswa dari berbagai departemen dan universitas. Pada tahun 2015, saya berangkat ke Indonesia sebagai penerima hibah penelitian dari Fulbright. Pada waktu itu Indonesia adalah negara terbesar dan paling kompleks secara geografis yang sama sekali tidak saya ketahui. Saya pergi untuk meneliti strategi yang diadopsi oleh perencana pemerintah lokal dalam menghadapi proses otonomi daerah dan perluasan perkotaan yang bertentangan dan tumpang tindih. Setelah itu saya tinggal di Jakarta selama dua tahun lagi, bekerja di beberapa lembaga pembangunan. Saya juga merasa sama nyamannya di kota-kota besar Jawa dan pedesaan yang intensif ditanami seperti di dataran banjir dan hutan sekunder di kampung halaman saya di sepanjang Sungai Connecticut. Mungkin bahkan lebih nyaman. Akhirnya, pada 2018, saya kembali ke Amerika Serikat untuk mempelajari perencanaan perkotaan di Harvard. Saya fokus pada urban analytics dan perencanaan pembangunan internasional, menjadi Presidential Scholar, menerima Heffernan Prize dari Graduate School of Design, dan terima beberapa beasiswa dari Harvard Asia Center. Saat lulus—sesudah proyek penelitian tentang peran teknologi informasi dalam akumulasi primitif, magang musim panas dengan ilmuwan data PBB di Jakarta, dan menulis tentang upaya pemerintah untuk membuat wilayah dan populasinya dapat dipahami—saya menjadi sangat skeptis terhadap pendekatan pembangunan konvensional secara umum, dan khususnya terhadap euforia seputar “digital” dan “berbasis data” dalam pembangunan. Saya juga menyadari bahwa saya sudah menemukan topik yang cukup menarik untuk mempertahankan minat saya cukup lama untuk menulis disertasi. Pada tahun 2020, saya memulai program PhD dalam pengembangan global di Cornell (Curriculum Vitae), di mana saya terima Dean’s Excellence Fellowship. Penelitian saya tentang transisi energi di Indonesia telah mendapat dukungan dari Einaudi Center Cornell, Foreign Languaga and Area Studies fellowship dari Departemen Luar Negeri AS, Atkinson Center for Sustainability, RANA Prize dari Cornell Global Development, dan Beasiswa Penelitian Disertasi Luar Negeri Fulbright-Hays dari Departemen Pendidikan AS.

Minat utamanya saya adalah ilmu sosial kualitatif, termasuk metode etnografi, tetapi saya juga tertarik pada data dan ilmu komputer. Saya antusias untuk melampaui sekadar mengutak-atik QGIS atau menulis skrip R yang sederhana, dan mulai menjelajahi hal-hal seperti … membuat situs web sendiri. Serta memikirkan bagaimana kapasitas komputasi mengubah ekonomi, masyarakat, dan politik kita.

Makanan Indonesia favoritnya saya adalah nasi pecel, khususnya yang dari Ponorogo.

Saya punya LinkedIn, Academia.edu, Github, Twitter, dan Instagram.